Oleh: mtsbirrulrensing | 1 April 2011

IMAM MALIK

(Madinah, 94 H/716 M-Madinah, 179 H/795 M).

Pendiri Mazhab Maliki, imam dan mujtahid (ahli ijtihad) besar dalam Islam yang ahli di bidang fikih dan hadis. Kama lengkapnya ialah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Asbahi. Malik bin Anas sejak lahir sampai wafatnya berada di Madinah. la tidak pernah meninggalkan kota Madinah kecuali untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Madinah ketika itu merupakan pusat berkembangnya sunah/hadis Rasulullah SAW, dan ia sendiri menjadi salah seorang periwayat (rawi) hadis yang masyhur.

Dalam hal penerimaan hadis, ia hanya menerima hadis dari orang yang memang dipandang ahli hadis dan orang terpercaya (siqah). la pun hanya menerima hadis yang matannya (redaksi atau kandungannya) tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Dalam hal periwayatan hadis, ia hanya meriwayatkan hadis-hadis yang makruf dan mensyaratkan juga matan hadis itu sejalan dengan amalan penduduk Madinah.

Guru yang sekaligus menjadi sumber penerima­an hadis Imam Malik adalah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Ibnu Syihab az-Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Sa’id al-Ansari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdur Rahman bin Hurmuz, seorang tabiin ahli hadis, fikih, fatwa, dan ilmu berdebat. Adapun murid-muridnya antara lain: asy-Syaibani, Imam Syafi’i, Yahya bin Yahya al-Andalusi, Abdurrahman bin Kasim di Mesir, dan Asad al-Furat at-Tunisi.

Buku karangan Malik bin Anas bernama al-Muwatta’. Buku ini adalah buku hadis dan sekali­gus buku fikih karena berisi hadis-hadis yang disusun sesuai dengan bidang-bidang yang terdapat dalam buku fikih. Dikatakan bahwa hadis-hadis yang terdapat dalam kitab al-Muwatta’ ini tidak seluruhnya musnad (hadis yang bersambung sanadnya) karena di samping hadis, di dalamnya ter­dapat pula fatwa para sahabat dan tabiin. Kitab al-Muwatta’ ini mulai ditulis oleh Malik bin Anas pada masa Khalifah al-Mansur (137 H/754 M-159 H/775 M) dan selesai penulisannya pada masa Khalifah al-Mahdi (159 H/775 M-169 H/785 M). Khalifah Harun ar-Rasyid (170 H/786 M-194 H/ 809 M) berusaha menjadikan kitab ini sebagai kitab hukum yang berlaku untuk umum pada masanya, tetapi Malik bin Anas tidak menyetujuinya.

Imam Malik tidak mau ikut campur dalam hal politik. Akan tetapi, ketika ia diminta memberi fat­wa tentang baiat yang diberikan secara paksa, ia menyatakan bahwa baiat semacam itu tidak sah. Baiat yang dimaksud itu ialah baiat khalifah Ab-basiyah, al-Mansur, yang menurut kelompok Syiah dipaksakan kepada umat. Bagi kelompok Syiah, fatwa Malik bin Anas ini dijadikan pendorong da­lam menentang kekuasaan Abbasiyah di Madinah. Peristiwa yang terjadi tahun 147 H ini menyebabkan Malik bin Anas ditangkap dan disiksa. Ketika musim haji tiba, al-Mansur mengunjungi Imam Malik dan memohon maaf kepadanya atas perlakuan petugas yang ada di Madinah. Imam Malik kemudian dibebaskan dan Khalifah al-Mansur me­mohon kepadanya untuk mengumpulkan hadis-ha­dis Rasulullah SAW agar dapat dijadikan pegangan umat. Pada mulanya Imam Malik memang keberatan tetapi akhirnya melaksanakannya juga. Sebagai hasilnya, tercipta kitab al-Muwatta’ seperti tersebut di atas.

Pemikiran Imam Malik di bidang hukum Islam/ fikih sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Ma­dinah sebagai pusat timbulnya sunah Rasulullah SAW dan sunah sahabat merupakan lingkungan kehidupan Imam Malik sejak lahir sampai wafatnya. Oleh sebab itu, pemikiran hukum Imam Malik banyak berpegang pada sunah-sunah tersebut. Kalau terjadi perbedaan satu sunah dengan yang lain, maka ia berpegang pada tradisi yang biasa berlaku di masyarakat Madinah. Menurut pendapatnya, tradisi masyarakat Madinah ketika itu berasal dari tradisi para sahabat Rasulullah SAW yang dapat dijadikan sumber hukum. Kalau ia tidak menemukan dasar hukum dalam Al-Qur’an dan sunah, ma­ka ia memakai qiyas (kias) dan al-maslahah al-mursalah (maslahat/kebaikan umum).

Berdasarkan pendapat Imam Malik tersebut, dasar-dasar hukum yang berlaku dalam Mazhab Maliki adalah sesuai dengan urutan berikut: 1) Al-Qur’an, 2) as-sunnah (sunah Rasulullah SAW), 3) sunah sahabat, 4) tradisi masyarakat Madinah (‘amal ahli al-Madinah), 5) kias, dan 6) al-maslahah al-mursalah.

Mazhab Maliki timbul dan berkembang di Ma­dinah. kemudian tersiar di sekitar Hedzjaz. Di Me­sir, Mazhab Maliki sudah mulai muncul dan berkembang selagi Imam Malik masih hidup. Di an­tara yang berjasa mengembangkannya adalah para murid Imam Malik sendiri: Abdul Malik bin Habib as-Sulami, Isma’il bin Ishak, Asyhab bin Abdul Aziz al-Kaisy, Abdurrahman bin Kasim, Usman bin Hakam, dan Abdur Rahim bin Khalid. Selain di Mesir, Mazhab Maliki ini juga dianut oleh umat Islam yang berada di Maroko, Tunisia, Tripoli, Su­dan, Bahrain, Kuwait, dan daerah Islam lain di sebelah barat, termasuk Andalusia. Filsuf Ibnu Rusyd yang di dunia Barat dikenal sebagai Commentator dari Aristoteles termasuk pengikut Imam Malik. Sementara itu, di dunia Islam sebelah timur Mazhab Maliki ini kurang berkembang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: