Oleh: mtsbirrulrensing | 26 Mei 2011

IMAM HANAFI

(Kufah, 80 H/699 M Baghdad, 150 H/767 M).
Ulama mujtahid (ahli ijtihad) dalam bidang fikih dan salah seorang di antara imam keempat mazhab (Mazhab Maliki, Mazhab Hanbali, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hanafi) yang terkenal dalam Islam. Nama lengkapnya Abu Hanifah Nu’man bin Sabit. Ayahnya, Sabit, berasal dari keturunan Persia yang semasa kecil diajak orangtuanya berziarah kepada Ali bin Abi Talib. Lalu ia didoakan agar dari keturunannya (Sabit) ada yang menjadi ahli agama. Gelar Abu Hanifah diberikan kepada Nu’man bin Sabit karena ia se¬orang yang sungguh-sungguh dalam beribadah. Kata hanif dalam bahasa Arab berarti “suci” atau “lurus”. Setelah menjadi ulama mujtahid, ia pun dipanggil dengan sebutan Imam Abu Hanifah dan mazhabnya dinamakan Mazhab Hanafi.

Imam Abu Hanifah dikenal rajin dan teliti da¬lam bekerja, fasih berbahasa. Pembicaraannya selalu mengandung nasihat dan hikmah. la teguh da¬lam memegang prinsip, berani menyatakan yang benar di hadapan siapa pun, dan memiliki kepribadian yang luhur. Walaupun putra saudagar kaya, Abu Hanifah amat menjauhi kemewahan hidup. Begitu pula ketika ia sendiri menjadi pedagang kaya, hartanya lebih banyak didermakan daripada digunakannya sendiri. la senang bergaul dan mempunyai banyak sahabat.
Sejak masa mudanya Abu Hanifah sudah me¬nunjukkan kecintaan yang mendalam pada ilmu pengetahuan, terutama yang bertalian dengan hukum Islam. la mengunjungi berbagai tempat untuk berguru kepada ulama yang terkenal, sehingga Abu Hanifah mempunyai banyak guru. Gurunya keba-nyakan dari para tabiin, antara lain Imam Ata bin Abi Rabah (w. 114 H), Imam Nafi Maula bin Amr (w. 117 H), dan Imam Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H). Yang terakhir ini adalah seorang ulama fikih yang termasyhur di masanya, dan Abu Hanifah berguru kepadanya selama kurang lebih 18 tahun. Gurunya yang lain adalah Imam Muham¬mad al-Baqir, Imam Adi bin Sabit, Imam Abdur¬rahman bin Hammaz, Imam Amr bin Dinar, Imam Mansur bin Mu’tamir, Imam Syu’bah al-Hajjaj, Imam Asim bin Abu an-Najwad, Imam Salamah bin Kuhail, Imam Qatadah, Imam Rabi’ah bin Abi Abdurrahman, dan Iain-lain.
Minatnya yang mendalam terhadap ilmu fikih, kecerdasan, ketekunan, dan kesungguhan dalam belajar mengantarkan Abu Hanifah menjadi se¬orang yang ahli di bidang fikih. Keahliannya diakui oleh ulama semasanya, antara lain oleh Imam Hammad bin Abi Sulaiman. la sering mempercayakan tugas kepada Abu Hanifah untuk memberi fatwa dan pelajaran ilmu fikih di hadapan murid-muridnya. Imam Syafi’i menyatakan bahwa Abu Hanifah adalah bapak dan pemuka seluruh ulama fikih. Imam Khazzaz bin Sarad juga mengakui keunggulan Abu Hanifah di bidang fikih dari ulama lainnya.
Selain ilmu fikih, Abu Hanifah juga mendalami hadis dan tafsir, karena keduanya sangat erat berkaitan dengan fikih. Pengetahuan lain yang dimilikinya adalah sastra Arab dan ilmu hikmah. Karena penguasaannya yang mendalam terhadap hukum-hukum Islam, ia diangkat menjadi mufti di kota Kufah, menggantikan Imam Ibrahim an-Nakhai. Kepopulerannya sebagai ahli fikih terdengar sampai ke berbagai pelosok negeri.
Imam Abu Hanifah begitu terkenal sehingga banyak orang datang dari daerah yang jauh, hanya untuk mendengarkan fatwanya, dan dalam waktu singkat muridnya pun bertambah dengan pesat, an¬tara lain Imam Abu Yusuf (113-182 H), Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (132-189 H), Imam Zufar bin Hudail (w. 158 H/775 M), dan Imam Hasan bin Ziyad.
Berbeda dengan guru lainnya pada waktu itu, Abu Hanifah dalam memberikan pengajaran selalu menekankan kepada murid-muridnya untuk berpikir kritis. la tidak ingin muridnya menerima begitu saja ilmu yang disampaikannya, melainkan mereka boleh mengemukakan tanggapan, pendapat, dan kritik. Sering kali ia ditemukan berdiskusi, bahkan berdebat dengan murid-muridnya tentang suatu masalah. Walaupun ia memberi kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat kepada murid-muridnya, ia tetap disegani dan dihormati, malah sangat dicintai murid-muridnya.
Ketakwaan Imam Abu Hanifah banyak diakui oleh ulama yang dekat dan mengenal dengan baik kehidupannya sehari-hari. Imam Abu Hanifah ada¬lah orang yang banyak beribadah kepada Allah SWT, sangat membenci perbuatan yang dilarang Allah SWT, amat berhati-hati dalam mengeluarkan hukum agama, dan paling sedikit berbicara. Imam Abu Hanifah terkenal sebagai orang yang sangat alim, sangat membenci kemewahan hidup, tekun dalam beribadah kepada Allah SWT, dan menguasai seluk-beluk hukum Islam.
Imam Abu Hanifah dikenal mempunyai sikap keras dan tegas terhadap bidah. Karena itu, ia senantiasa berpesan kepada murid-muridnya agar selalu waspada terhadap berbagai bidah yang muncul, dan hendaknya selalu berpedoman pada sunah Rasulullah SAW. Menurutnya, setiap hal yang baru dalam urusan ibadah adalah bidah.
Imam Abu Hanifah digelari Imam Ahlur Ra’yi karena ia lebih banyak memakai argumentasi akal daripada ulama lainnya. la juga banyak menggunakan kias dalam menetapkan suatu hukum. Walaupun demikian, tidak berarti ia mendahulukan kias daripada nas. Dasar-dasar yang dipakai dalam menetapkan suatu hukum adalah:
(1) kitab Allah SWT (Al-Qur’an);
(2) sunah Rasulullah SAW;
(3) fatwa-fatwa dari para sahabat;
(4) kias;
(5) istihsan;
(6) ijmak; dan
(7) ‘urf, yaitu adat yang berlaku di masyarakat Islam.
Dasar-dasar itulah yang kemudian dikenal de¬ngan “Dasar Mazhab Hanafi”. Tegasnya, ia hanya menggunakan kias bila hukumnya tidak didapati secara jelas di dalam Al-Qur’an, tidak dalam sunah (hadis sahih), dan tidak pula dalam keputusan para sahabat, khususnya al-Khulafa’ ar-Rasyidun (Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib).
Sebagai ulama yang terkemuka dan banyak memberikan fatwa, Imam Abu Hanifah meninggalkan banyak ide dan buah pikiran. Sebagian ide dan buah pikirannya ditulisnya sendiri dalam bentuk buku, tetapi kebanyakan dihimpun oleh murid-muridnya untuk kemudian dibukukan. Kitab-kitab yang ditulisnya sendiri antara lain: (1) al-Fara’id, yang khusus membicarakan masalah waris dan segala ketentuannya menurut hukum Islam; (2) asy-Syurut, yang membahas perjanjian; dan (3) al-Fiqh al-Akbar, yang membahas ilmu kalam atau teologi dan diberi syarah (penjelasan) oleh Imam Abu Mansur Muhammad al-Maturidi dan Imam Abu al-Muntaha al-Maula Ahmad bin Mu¬hammad al-Magnisawi.
Jumlah kitab yang ditulis oleh murid-muridnya cukup banyak; di dalamnya terhimpun ide dan buah pikiran Abu Hanifah. Semua kitab itu kemudian menjadi pegangan pengikut Mazhab Hanafi. Ulama Mazhab Hanafi membagi kitab-kitab itu ke dalam tiga tingkatan.
Pertama, tingkat Masa’il al-Usul (masalah-masalah pokok), yaitu kitab-kitab yang berisi masalah-masalah yang langsung diriwayatkan dari Imam Hanafi dan sahabat-sahabatnya yang terkenal seperti Imam Abu Yusuf. Walaupun demikian, kitab ini tidak murni merupakan pendapat dan pikiran Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya, tetapi juga pikiran dan pendapat murid yang menuliskannya. Kitab dalam kategori ini disebut Zahir ar-Riwayah (teks riwayat) yang terdiri atas 6 kitab, yaitu:
(1) al-Mabsut (buku yang terbentang); (2) al-Jami’ as-Sagir (himpunan ringkas); (3) al-Jami’ al-Kabir (himpunan lengkap); (4) as-Sair as-Sagir (sejarah ringkas); (5) as-Sair al-Kabir (sejarah lengkap); (6) az-Ziyadah (tambahan).
Pada awal abad ke-4 Hijriah, keenam buku ini dihimpun dan disusun menjadi satu oleh Imam Abdul Fadl Muhammad bin Ahmad al-Marwazi dengan nama al-Kafi (Yang Memadai) yang kemudian disyarah oleh Imam Muhammad as-Sarkhasi dengan nama al-Mabsut (Yang Menuai).
Kedua, tingkat Masa’il an-Nawazir (masalah tentang sesuatu yang diberikan sebagai nazar), yaitu kitab-kitab yang berisi masalah fikih yang diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya dalam kitab selain Zahir ar-Riwayah. Kitab-kitab yang termasuk dalam kategori kedua adalah kitab-kitab Harr an-Niyah (Niat Yang Murni), Jurj an-Niyah (Rusaknya Niat), dan Qais an-Niyah (Kadar Niat) oleh Imam Muhammad bin Hasan bin Syaibani, serta kitab al-Mujarrad (Yang Asli) oleh Imam Hasan bin Ziyad.
Ketiga, tingkat al-Fatawa wa al-Waqi’at (fatwa-fatwa dalam permasalahan), yaitu kitab-kitab yang berisi masalah-masalah fikih yang berasal dari is-tinbat (pengambilan hukum dan penetapannya) ulama Mazhab Hanafi. Termasuk dalam kategori ini adalah kitab-kitab an-Nawazil (Bencana) dari Imam Abdul Lais as-Samarqandi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: