Oleh: mtsbirrulrensing | 3 Juni 2011

IMAM HANBALI

(Baghdad, Rabiulakhir 164/ 780 M-Rabiulawal 241/855 M).
Ulama mujtahid (ahli ijtihad) di bidang fikih dan salah seorang di antara empat imam mazhab yang terkenal di dunia Islam. Nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Sering juga dipanggil dengan nama Abu Abdullah, karena salah seorang putranya bernama Abdullah. Setelah menjadi ulama besar yang mempunyai banyak pengikut, ia dikenal dengan panggilan Imam Hanbali dan mazhabnya disebut Mazhab Hanbali.

Ayahnya bernama Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasit bin Mazin bin Syaiban bin Dahal bin Akabah bin Sya’b bin Ali bin Baqa bin Qashid bin Aqsy bin Dami bin Jadlah bin As’ad bin Rabi’ah bin Nizar. Pada Nizar inilah bertemu silsilah Imam Hanbali dan Nabi Muham¬mad SAW. Ibunya bernama Shahifah binti Maimunah bin Abdul Malik bin Sawadah bin Hindur asy-Syaibani, berasal dari bangsawan Bani Amir.
Karena ayahnya meninggal dalam usia muda, Hanbali diasuh dan dibesarkan oleh ibunya sendiri. Pendidikannya diawali dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama pada ulama-ulama di Bagh¬dad sampai usia 16 tahun. Kemudian, ia memperdalam ilmu agama dengan mengunjungi ulama-ulama ternama di berbagai tempat, seperti Kufah, Basra, Syam (Suriah), Yaman, Mekah, dan Madinah. Di antara guru-gurunya adalah Hammad bin Khalid, Isma’il bin Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walid bin Muslim, Mu’tamar bin Sulaiman, Abu Yusuf al-Qadi, Yahya bin Zaidah, Ibrahim bin Sa’id, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Abdurrazaq bin Human, Musa bin Tariq, dan banyak lagi yang lainnya. Dari merekalah Ibnu Hanbal mendalami ilmu fikih, ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu kalam, ilmu usul, dan ilmu bahasa Arab.
Ibnu Hanbal adalah seorang yang cerdas, rajin, dan tekun, serta sangat cinta kepada ilmu pengetahuan. Begitu cintanya pada ilmu pengetahuan, sehingga setiap kali ia mendengar ada seorang guru atau ulama terkemuka di suatu tempat, dengan serta merta ia berangkat ke sana untuk berguru pada ulama tersebut, walaupun ia harus menempuh jarak yang jauh dan menghabiskan waktu yang lama.
Karena perhatiannya yang besar kepada ilmu, Ibnu Hanbal baru menikah setelah berusia 40 tahun. la menikah pertama kali dengan Aisyah binti Fadl dan dengannya dikaruniai seorang putra bernama Saleh. Setelah istri pertama wafat, ia menikah lagi dengan Raihanah dan dikaruniai pula seorang putra yang bernama Abdullah. Kemudian sepeninggal istri keduanya, ia menikah untuk ketiga kalinya dengan seorang jariyah (hamba perempuan) bernama Husinah, dan dianugerahi lima orang anak, yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muham¬mad, dan Sa’id.
Imam Hanbali dikenal sangat taat beribadah dan sangat zuhud. Imam Ibrahim bin Hani (se¬orang imam fikih dan sahabat Imam Hanbali) mengatakan bahwa dia berpuasa hampir setiap hari dan tidurnya hanya sedikit pada malam hari. Kebanyakan waktunya dipakai untuk salat malam dan salat witir sampai masuk waktu subuh. Pengakuan lain disampaikan oleh putranya, Imam Adullah, “Ayah itu setiap harinya membaca sepertujuh Al-Qur’an dan waktu malam juga sepertujuh Al-Qur’an. Salat isyanya sering kali bersambung de¬ngan salat subuhnya.”
Selain itu, ia juga masyhur dengan sifat kedermawanannya. la tergolong orang kaya. Setiap kali memperoleh rezeki, ia selalu membaginya kepada orang lain yang dianggap lebih membutuhkan. Ten-tang hal ini Imam Yahya bin Hilal (seorang imam fikih dan sahabat Imam Hanbali) mengemukakan, “Aku pernah datang kepada Imam Hanbali, lalu aku diberinya uang sebanyak empat dirham sambil berkata, ‘Ini adalah rezki yang kuperoleh hari ini dan semuanya kuberikan kepadamu.'”
Imam Hanbali mempunyai perhatian yang amat besar terhadap hadis-hadis Nabi SAW. Di mana saja ia mendengar ulama ahli hadis, ia pun mendatanginya untuk mendapatkan hadis daripadanya. Ketekunannya belajar dan meneliti hadis itu pulalah yang kemudian mengantarkannya menjadi ulama hadis yang menghafal ratusan ribu hadis.
Imam Hanbali hidup pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Waktu itu, aliran Muktazilah sedang mengalami masa kejayaannya. Al-Ma’mun menjadikan aliran ini sebagai mazhab resmi negara dan selanjutnya dengan menggunakan kekuasaannya ia memaksakan aliran ini kepada pembesar kerajaan serta tokoh-tokoh masyarakat. Di antara ajaran Muktazilah yang dipaksakan itu adalah paham yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk atau ciptaan Tuhan. Peristiwa ini disebut mihnah. Peristiwa ini menyebabkan terbunuhnya beberapa ulama terkemuka yang mempertahankan pendiriannya dengan tegas bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk melainkan sabda Allah.
Di antara ulama yang dengan tegas memper¬tahankan pendiriannya adalah Imam Hanbali. Bahkan ia kemudian dipandang sebagai pemuka kelompok oposisi yang menentang keinginan penguasa untuk memaksakan paham Muktazilah ini. Karena membangkang terhadap penguasa, Ibnu Hanbal ditangkap dan dikirim menghadap al-Ma’mun di Tarsus. Sebelum sampai ke kota itu, al-Ma’mun wafat dan digantikan oleh putranya al-Mu’tasim yang kemudian memenjarakan Imam Hanbali. Selama dalam penjara, Imam Hanbali mendapat perlakuan yang sangat kejam. Setiap hari ia dicambuk dan dipukul. Walaupun sangat menderita, ia tetap teguh pada keyakinannya. Penganiayaan terhadap Imam Hanbali terus berlangsung sampai masa pemerintahan al-Wasiq, putra al-Mu’tasim. Sikap Ibnu Hanbal yang tegas, teguh dalam memegang prinsip, dan tidak takut mati menimbulkan simpati umat kepadanya, sehingga ia mempunyai banyak pengikut di kalangan umat Islam yang tidak setuju dengan paham Muktazilah.
Setelah al-Wasiq meninggal, ia digantikan oleh al-Mutawakkil. Pada masanyalah Imam Hanbali memperoleh kebebasan. Pada masa al-Mutawakkil ia dihormati dan dimuliakan. Sebagai ulama namanya bertambah harum dan orang-orang pun berdatangan dari berbagai pelosok negeri untuk mendengarkan fatwa dan mendapatkan ilmu daripadanya. Dengan demikian, muridnya pun semakin banyak jumlahnya.
Di antara muridnya yang terkenal ialah Imam Hasan bin Musa, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu Zur’ah ad-Di-masyqi, Imam Abu Zur’ah ar-Razi, Imam Ibnu Abi ad-Dunia, Imam Abu Bakar al-Asram, Imam Han¬bal bin Ishaq asy-Syaibani, Imam Saleh, dan Imam Abdullah. Dua yang tersebut terakhir adalah putranya sendiri yang juga berhasil menjadi ulama besar pada masanya.
Di bidang fikih, prinsip-prinsip yang digunakan Imam Hanbali dalam mengistinbdtkan (menyim-pulkan) suatu hukum adalah (1) nas Al-Qur’an dan hadis sahih, (2) fatwa para sahabat, (3) hadis mursal (bersambung) dan hadis daif (lemah) yang bukan disebabkan kecurigaan akan kebohongan perawinya, dan (4) kias. Dalam menetapkan suatu hukum Imam Hanbali pertama-tama merujuk kepada nas Al-Qur’an dan, jika tidak ditemukannya, ia me¬rujuk kepada hadis/sunah Nabi SAW yang sahih. Apabila dalam hadis/sunah sahih tidak ditemukan hukumnya, ia mencarinya dalam fatwa sahabat Nabi SAW yang disepakati. Kalau dalam fatwa itu tidak pula ditemukan, ia mencarinya dalam fatwa sahabat yang masih dalam perselisihan. Jika belum juga ditemukan hukumnya, ia merujuk kepada hadis mursal dan hadis daif. Imam Hanbali lebih mengutamakan hadis daif daripada pemikiran akal (ra’yu). Bila sudah dicari hukumnya dalam hadis mursal dan hadis daif tetapi belum juga ditemukan, barulah ia memakai kias. Kias hanya dipakai dalam keadaan terpaksa (darurat). Prinsip-prinsip inilah yang kemudian dikenal dengan dasar-dasar Mazhab Imam Hanbali.
Kemampuannya dalam bidang hadis terbukti dari kesanggupannya menyusun al-Musnad, yaitu suatu kitab hadis yang menghimpun kurang lebih 40.000 hadis, dan disusun berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkannya. Menurut Imam Abdullah bin Ahmad (putra sulung Imam Han¬bali), 40.000 hadis yang termuat dalam kitab ini merupakan hadis seleksi dari 700.000 hadis yang dihafal oleh Imam Hanbali. Penelitian Muhammad Abdul Aziz al-Khuli (seorang ulama bahasa yang menulis banyak biografi tokoh-tokoh sahabat dan tabiin) menunjukkan bahwa ada 10.000 hadis yang berulang dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal. Jadi jumlah sebenarnya adalah 30.000 hadis. Umumnya hadis-hadis yang terdapat di dalamnya mempunyai derajat sahih dan sedikit sekali yang berderajat daif. Pentingnya buku itu bagi para ulama hadis terlihat dari betapa banyak ulama yang mensyarah isinya, antara lain Imam Abu Amr Muhammad bin Abdul Wahid, Imam Sirajuddin bin Amr bin Ali, Imam Muhammad bin Muhammad al-Jazari, Imam Ali bin Husain bin Urwah, dan Imam Abu Hasan Muhammad bin Abdul Hadi as-Sindi.
Dalam memahami Al-Qur’an Imam Hanbali lebih senang mengambil arti lafal daripada melakukan takwil, terutama terhadap ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Tuhan atau ayat-ayat mutasyabihat (mengandung penyerupaan Tuhan de¬ngan makhlukNya, seperti Tuhan mempunyai wajah, tangan, dan sebagainya). Imam Hanbali, di samping hafal Al-Qur’an dengan fasih dan lancar, juga mengerti tafsirnya secara mendalam.
Imam Hanbali meninggalkan banyak karya tulis, terutama tentang Al-Qur’an, antara lain Tafsir Al-Qur’an, Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh (Kitab mengenai Ayat-Ayat Yang Menghapuskan dan Dihapuskan Hukumnya), Kitab Jawdban Al-Qur’an, Ki¬tab al-Muqaddam wa al-Mu’akhkhar fl Al-Qur’an (Buku tentang Ayat-Ayat Yang Terdahulu dan Yang Kemudian Diturunkan), Kitab at-Tarikh (Buku Sejarah), Kitab al-Manasikh as-Sagir (Buku Kecil tentang Ayat-Ayat Yang Dihapuskan), Kitab al-Manasikh al-Kabir (Buku Besar tentang Ayat-Ayat Yang Dihapuskan), Kitab al-‘Illah (Buku tentang Sebab-Sebab Hukum), Kitab Ta’at at-Rasul (Buku mengenai Ketaatan kepada Rasul), Kitab as-Salah, dan Kitab al Wara’ (Buku mengenai Ketakwaan).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: